Postingan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
12.06
Pada tahun 1927 organisasi ini mengubah haluannya menjadi mencapai kemerdekaan nasional berdasarkan Agama Islam. PSI meningkat menjadi gerakan kebangsaan pada tahun 1927. Pada saat itu, PSI mengubah namanya menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Perubahan itu terjadi karena masuknya Dr. Soekiman Wirjosandjojo, dalam PSII. Namun, masuknya beliau menimbulkan perpecahan di tubuh PSII. Golongan Tjokroaminoto dan H. Agus Salim (golongan tua) tidak setuju dengan cara-cara Dr. Soekiman, yang berakhir dengan pemecatannya. Ia kemudian mendirikan partai baru yaitu Partai Islam Indonesia (PII). Namun ternyata akibatnya sangat buruk. Maka tak ada cara lain kecuali PSII mencabut pemecatannya. Akan tetapi ternyata tidak bertahan lama. Akhirnya Dr. Soekiman keluar lagi dari PSII. Perpecahan dalam tubuh PSII terus berlanjut dengan keluarnya Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Akhirnya, PSII terbagi menjadi beberapa aliran, yaitu aliran Kartosoewirjo, aliran Abikoesno, dan aliran Soekiman. Hal itu mengakibatkan kerugian pada pergerakan Islam sendiri, yaitu kedudukannya sebagai partai besar mengalami kemunduran.
Nasionalisme Indonesia : Dinamika Peran Sarikat Islam 1905
Written By Syarikat Islam Indonesia (SMD) on Jumat, 17 Mei 2013 | 12.06
Perlawanan terhadap imperialisme/ kolonialisme Hindia Belanda/VOC yang bersifat semesta dengan melibatkan berbagai lintas-etnis dan wilayah di Nusantara disebut sebagai perjuangan pergerakan nasional. Sebelumnya, perlawanan tersebut dilakukan oleh entitas kedaulatan etnis-etnis tertentu melalui kesultanan-kesultanan yang tersebar di Nusantara. Pergerakan semesta ini berlangsung sejak tahun 1900-an.
Ajaran Islam telah mengambil peran menentukan dalam embiro sejarah perlawanan di Nusantara. Menurut istilah Mohammad Natsir sebagai ‘perintis jalan.’ Sejarah mencatat, pada awalnya, perlawanan-perlawanan terhadap penjajahan bangsa asing (Spanyol, Portugis, Belanda/VOC) dilancarkan oleh kesultanan Islam. Begitupun organisasi pergerakan rakyat yang pertama lahir dengan wawasan ke-Indonesia-an adalah Sarikat Dagang Islam yang lahir 16 Oktober 1905. Sarikat Dagang Islam diubah menjadi Sarikat Islam tahun 1912, Sarikat Islam (SI) merupakan satu-satunya organisasi pelopor pada waktu itu, yang memadukan tujuan keindonesiaan dan cita-cita keislaman. Bahkan, kalangan non-Muslim seperti F.E. Douwes Dekker turut membantu Sarikat Islam yang bersifat kerakyatan. Sarikat Islam mengalami metamorfosa menjadi gerakan politik anti penjajahan, bernama Partai Syarikat Islam (PSI, 1923).
Ajaran Islam telah mengambil peran menentukan dalam embiro sejarah perlawanan di Nusantara. Menurut istilah Mohammad Natsir sebagai ‘perintis jalan.’ Sejarah mencatat, pada awalnya, perlawanan-perlawanan terhadap penjajahan bangsa asing (Spanyol, Portugis, Belanda/VOC) dilancarkan oleh kesultanan Islam. Begitupun organisasi pergerakan rakyat yang pertama lahir dengan wawasan ke-Indonesia-an adalah Sarikat Dagang Islam yang lahir 16 Oktober 1905. Sarikat Dagang Islam diubah menjadi Sarikat Islam tahun 1912, Sarikat Islam (SI) merupakan satu-satunya organisasi pelopor pada waktu itu, yang memadukan tujuan keindonesiaan dan cita-cita keislaman. Bahkan, kalangan non-Muslim seperti F.E. Douwes Dekker turut membantu Sarikat Islam yang bersifat kerakyatan. Sarikat Islam mengalami metamorfosa menjadi gerakan politik anti penjajahan, bernama Partai Syarikat Islam (PSI, 1923).
Seperti pernyataan Mohammad Natsir bahwa, “Pergerakan Islamlah yang lebih dahulu membuka jalan medan politik kemerdekaan di tanah air ini, yang mula-mula menanam bibit persatuan Indonesia, yang menyingkirkan sifat kepulauan dan keprovinsian, yang mula-mula menanam persaudaraan dengan kaum yang senasib di luar batas Indonesia, dengan tali keislaman.”
Istilah nasional,pertama kalinya digunakan/dimasyarakatkan oleh Central Sarikat Islam (CSI) melalui kongres nasional pertamanya dengan sebutan Kongres Nasional (Nationaal Congress) di Bandung 17 – 24 Juni 1916. Kongres ini merupakan kongres ketiga SI. Kongres pertamanya dilaksanakan di Surabaya 26 Januari 1913, kongres keduanya dilaksanakan di Solo. Kongres ketiganya dinamai Kongres Nasional. Pada kongres tersebut dihadiri oleh utusan 80 SI Daerah untuk mewakili anggota yang berjumlah 360 ribu. Jumlah seluruh anggota SI pada waktu itu sudah mencapai 800 ribu orang (Pringgodigdo, 1980: 6). Adapun istilah “Indonesia” lebih awal dipopulerkan oleh Dr. Soekiman Wirjosandjojo,Pimpinan Partai Sjarikat Islam Indonesia (PSII). Beliaulah yang memelopori perubahan nama Indische Vereeniging menjadi Perhimpoenan Indonesia pada 1925 di Belanda. Kemudian Majalah Hindia Poetera diubahnya menjadi Indonesia Merdeka
. Sedangkan, sebagai pelopor kemerdekaan bangsa adalah HOS Cokroaminoto yang telah memimpin SI dan menyelenggarakan Kongres Nasional pertamanya pada tahun 1916. Dalam kongres itu, HOS Cokroaminoto sudah memelopori tuntutan Indonesia merdeka atau pemerintah sendiri (zelf bestuur).Nomor wahid , sebagai penggagas pertama KEMERDEKAAN INDONESIA –pada awal abad 19-, dari penjajahan Belanda (kolonialis Eropa), adalah Syarekat Islam. HOS Tjokroaminoto mencitakan negara yang merdeka (zelf Bestur) yang bersendikan kepada Agama Islam.
Dalam kongres-kongres Sarikat Islam nampak semangat dan jiwa merdeka yang sangat kental:
Pada tanggal 26 Januari 1913, diadakan Kongres I Sarekat Islam di Surabaya. Ribuan orang datang berbondong-bondong, jalan-jalan menuju Taman Kota di mana kongres diselenggarakan penuh sesak oleh orang. Kongres tersebut dipimpin oleh Tjokroaminoto dan pada kongres itu beliau menyatakan bahwa Sarekat Islam bertujuan: “…Membangun kebangsaan, mencari hak-hak kemanusiaan yang memang sudah tercetak oleh Allah, menjunjung derajat yang masih rendah, memperbaiki nasib yang masih jelek dengan jalan mencari tambahan kekayaan"
Pernyataan Tjokroaminoto adalah bahasa lain daripada upaya untuk melepaskan diri dari PENJAJAHAN BELANDA yang menginjak KEBANGSAAN, memperkosa hak-hak KEMANUSIAAN, Merendahkan DERAJAT DAN MARTABAT BANGSA.
Pada Kongres nasional pertama SI di Bandung TJOKROAMINOTO menyatakan ideal hubungan Indonesia dengan Belanda sebagai berikut: “Tidaklah layak Hindia –Belanda diperintah oleh Holand, Zoals een landheer zijn percelen beheert (sebagai tuan tanah yang menguasai tanah-tanahnya). Tidaklah wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang diberikan makanan hanya disebabkan oleh susunya. Tidaklah pada tempatnya untuk menganggap negeri ini sebagai suatu tempat di mana orang-orang datang dengan maksud mengambil hasilnya. Keadaan yang sekarang yaitu negri kita diperintah oleh suatu Staten-General yang begitu jauh tempatnya nun di sana…dan pada saat ini tidaklah lagi dapat dipertanggung jawabkan bahwa penduduknya terutama penduduk pribumi, tidak mempunyai hak untuk berpartisipasi di dalam masalah-masalah politik, yang menyangkut nasibnya sendiri….Tidak bisa lagi terjadi bahwa seseorang mengeluarkan undang-undang dan peraturan untuk kita tanpa partisipasi kita, mengatur hidup kita tanpa kita”.
Nampak jelas perjuangan SI untuk membangkitkan semangat MERDEKA, dan bangkit berdiri sendiri tanpa TERJAJAH BELANDA. Sekaligus bukti sebagai pelopor kesadaran politik bangsa Indonesia.
Kongres Nasional ke II diselenggarakan di Jakarta melahirkan Program asas dan program Tandzim. Keterangan Asas (Pokok) mengemukakan kepercayaan Centraal Sarekat Islam bahwa: “Agama Islam itu membuka rasa pikiran perihal persamaan derajat manusia…dan bahwasannya itulah sebaik-baiknya agama buat mendidik budi pekertinya rakyat…Partai juga memandang agama sebagai sebaik-baiknya daya upaya yang boleh dipergunakan agar jalannya budi akal masing-masing orang itu ada bersama-sama budi pekerti….dan memperjuangkan agar tambah pengaruhnya segala rakyat dan golongan rakyat…di atas jalannya pemerintahan dan kuasanya pemerintah yang perlu akhirnya akan boleh mendapat kasa pemerintah sendiri (Zelf bestuur).
Semakin jelas perjuangan SI, pada kongres nasional kedua di Batavia ini adalah cita cita Zelf bestuur (pemerintahan sendiri) dengan mengambil dasar Islam sebagai agama mayoritas bangsa indonesia. Lihat juga Program-Asas (Beginsel-program) dan Program-Pekerjaannya (Program van Actie) Syarikat Islam dalam Tafsir Asas dan Proghram Tandzim PSII
Maksud Pergerakan S.I : akan menjalankan Islam dengan seluas-luas dan sepenuh-penuhnya, supaya kita mendapat suatu Dunia Islam yang sejati dan bias menurut kehidupan Muslim yang sesungguh-sungguhnya
Pada tahun 1923, SI mengadakan kongres yang ketujuh di Madiun. Memutuskan untuk mengganti CSI menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). Setelah berganti nama menjadi PSI, perkumpulan ini kegiatannya sebagai berikut.
a. Menjalin hubungan dengan gerakan Islam di luar negeri yang disebut Pan Islamisme. Ide ini dikemukakan oleh H. Agus Salim.
b. PSI bersama Muhammadiyah mendirikan badan All Islam Congress di Garut pada 21 Mei 1924 dan karena Volksraad dianggap tidak menguntungkan, maka PSI menjalankan politik non koperasi.
Pada tahun 1927 organisasi ini mengubah haluannya menjadi mencapai kemerdekaan nasional berdasarkan Agama Islam. PSI meningkat menjadi gerakan kebangsaan pada tahun 1927. Pada saat itu, PSI mengubah namanya menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Perubahan itu terjadi karena masuknya Dr. Soekiman Wirjosandjojo, dalam PSII. Namun, masuknya beliau menimbulkan perpecahan di tubuh PSII. Golongan Tjokroaminoto dan H. Agus Salim (golongan tua) tidak setuju dengan cara-cara Dr. Soekiman, yang berakhir dengan pemecatannya. Ia kemudian mendirikan partai baru yaitu Partai Islam Indonesia (PII). Namun ternyata akibatnya sangat buruk. Maka tak ada cara lain kecuali PSII mencabut pemecatannya. Akan tetapi ternyata tidak bertahan lama. Akhirnya Dr. Soekiman keluar lagi dari PSII. Perpecahan dalam tubuh PSII terus berlanjut dengan keluarnya Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Akhirnya, PSII terbagi menjadi beberapa aliran, yaitu aliran Kartosoewirjo, aliran Abikoesno, dan aliran Soekiman. Hal itu mengakibatkan kerugian pada pergerakan Islam sendiri, yaitu kedudukannya sebagai partai besar mengalami kemunduran.
Pada zaman penjajahan facicme Jepang (tahun 1942) seluruh kegiatan politik PSII dinyatakan uzur karena tekanan yang kuat dan pelarangan semua kegiatan politik oleh Jepang.
Pernyataan uzur dalam PSII tidaklah berarti PSII membubarkan diri atau bubar, akan tetapi menghentikan sementara kegiatannya karena adanya suatu hal luar biasa yang tidak memungkinkan dilaksanakannya kegiatan organisasi partai secara formil, kemudian jika keadaan telah memungkinkan maka PSII akan menjalankan kembali aktivitasnya sebagai partai politik.
Pernyataan uzur dalam PSII tidaklah berarti PSII membubarkan diri atau bubar, akan tetapi menghentikan sementara kegiatannya karena adanya suatu hal luar biasa yang tidak memungkinkan dilaksanakannya kegiatan organisasi partai secara formil, kemudian jika keadaan telah memungkinkan maka PSII akan menjalankan kembali aktivitasnya sebagai partai politik.
Hal ini dinyatakan dalan Anggaran Dasar PSII, bahwa: “Sekalian anggota Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) haruslah berkeyakinan dan beri’tiqad, bahwa Partai itu tidak dapat bubar atau dibubarkan. Adapun kalau sekiranya ada udzur baginya, hendaklah dikembalikan kepada firman Allah dalam Al Qur’an surat At Taghabun ayat 16: “Fattaqullaha mastatha’tum”, (Takutlah kamu sekalian kepada Allah dengan sekuat kuatmu).
Akan tetapi, meskipun PSII dalam keadaan uzur, para pemimpin dan kader PSII tetap melakukan berbagai kegiatan baik secara diam diam dibawah tanah maupun kegiatan formil dalam pemerintahan Jepang. Mereka telah turut berperan mengantarkan bangsa Indonesia kedepan pintu gerbang Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Pasca Proklamasi 17 Agustus 1945, dibentuklah Majelis Syura Muslimin Indnesia sebagai Majelis Permusyawatan Para Ulama Indonesia dan kolompok/organisasi Islam yang ada pada waktu itu dan bukan sebagai partai politik. Idenya sebagai kelanjutan dari MIAI (Al Majlisul Islamil A’la Indonesia) yang didirikan tahun 1937 di Surabaya. Para tokoh Syarikat Islam secara perorangan (bukan mewakili PSII karena PSII masih dalam keadaan uzur) turut serta membentuk Masyumi sebagai lembaga musyawarah ummat Islam Indonesia.
Kemudian setelah keluar pengumuman pemerintah pada awal kemerdekaan agar masyarakat membentuk partai-partai politik, yang dimaksudkan untuk menunjukan kepada dunia luar bahwa kemerdekan Indonesia yang telah diproklamasikan itu didukung dan ditopang oleh kekuatan partai partai politik bangsa Indonesia, maka organisasi Majelis Syura Muslimin Indonesia menjadi partai Politik Islam Masyumi.
Terbentuknya Partai Politik Islam Masyumi merupakan suatu kesalahan karena Masyumi,sesungguhnya didirikan sebagai Majelis Permusyawatan Para Ulama Indonesia dan kolompok / organisasi Islam yang ada pada waktu itu untuk tujuan mendirikan majelis imamah dan bukan untuk menjadi partai politik. Semula, sebagai kelanjutan dari MIAI (Al Majlisul Islamil A’la Indonesia) yang didirikan tahun 1937 di Surabaya untuk menyelesaikan perbedaan dan perselisihan paham dikalangana ummat islam.
Hal ini adalah merupakan suatu kealpaan dan kelengahan tokoh PSII yang tidak menyadari bahwa PSII sedang dalam keadaan uzur (tidak bubar)
Hal ini adalah merupakan suatu kealpaan dan kelengahan tokoh PSII yang tidak menyadari bahwa PSII sedang dalam keadaan uzur (tidak bubar)
Para tokoh PSII seharusnya mendeklarasikan lebih dahulu aktifnya kembali PSII sebagai partai politik Islam dan mengajak para pemimpin Islam itu menggunakan PSII sebagai satu-satunya partai politik Islam dan mencegah berdirinya Masyumi sebagai partai politik Islam karena tindakan tersebut dapat diibaratkan mendirikan sebuah mesjid baru disamping mesjid yang sudah ada dalam sebuah lingkungan. Hukumnya adalah membuat firkah yang tidak sesuai dengan ketentuan Allah dalam Al Quran surat Ali Imran (103).
Setelah terlanjur berdirinya partai politik Islam Masyumi,yang didalamnya terdapat para pemimpin dan tokoh-tokoh PSII, maka para tokoh PSII dari Sumatera Barat (Sumatera Tengah pada waktu itu) menyampaikan peringatan kepada para tokoh PSII yang ada dalam Masyumi, bahwa PSII yang sedang uzur harus diaktifkan kembali sebagai partai politik Islam. Maka sebagian besar tokoh PSII yang menyadari dan taat sebagai kader yang telah mengucapkan bai’at sebagai anggota PSII, kembali mengaktifkan PSII pada tahun 1947 di Yogyakarta sebagai partai politik dan keluar dari Masyumi.
Kejadian tersebut menimbulkan salah paham dan friksi yang pertama dari sebagian pemimpin Islam yang ada di Masyumi kepada para tokoh dan kaum PSII yang mengaktifkan kembali PSII, yang dipandang sebagai telah keluar dan tidak taat dalam persatuan Islam dengan mendirikan PSII itu, pada hal keadaannya adalah karena taat kepada azas partai tentang uzur dan taat kepada bai’at yang tercantum dalam anggaran dasar PSII. Kondisi kesalah pahaman ini berkembang dan berlanjut hingga saat ini tanpa pernah adanya klarifikasi serta pemecahan masalah tentang pemahaman arti persatuan dalam ummat Islam dibidang politik.
bersambung ke bag II.....
bersambung ke bag II.....
15.43
Ada pernyataan yang patut
dicermati dari mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD, yang diekspose
pers, Rabu (3/4). Dia menyebutkan, semua partai politik (parpol) di Indonesia
bermasalah. Maksudnya, semua parpol punya masalah korupsi alias ada
pengurus atau kader parpolnya yang
menjadi tersangka kasus korupsi. Pertanyaanya kemudian, adakah parpol yang
tidak bermasalah?
“Partai Ateis”?
Written By Syarikat Islam Indonesia (SMD) on Jumat, 05 April 2013 | 15.43
Ada pernyataan yang patut
dicermati dari mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD, yang diekspose
pers, Rabu (3/4). Dia menyebutkan, semua partai politik (parpol) di Indonesia
bermasalah. Maksudnya, semua parpol punya masalah korupsi alias ada
pengurus atau kader parpolnya yang
menjadi tersangka kasus korupsi. Pertanyaanya kemudian, adakah parpol yang
tidak bermasalah?
Jawaban ini jelas menarik
diperbincangkan, dan realitas itulah yang tertangkap insan pers di tengah
masyarakat. Pernyataan tersebut tentu menjadi suatu “kesempurnaan” dalih
penganut mazhab golput alias “golongan putih”. Mereka menyebut parpol –begitu klaim
eksistensinya—golputlah yang sebenanya menjadi pemenang dalam setiap pilkada di
Indonesia.
Dalam pesta demokrasi di Jabar umpamanya,
golput menyatakan keluar sebagai pemenangnya. Pasalnya, jumlah mereka ada
sekitar 11 juta orang, sedangkan perolehan suara pasangan Aher-Dedy –yang di
tuduh kubu pasangan Rieke-Teten melakukan kecurangan—hanya setengahnya dari jumlah
tersebut. Beberapa pengamat pun mempertanyakan representasi kemenangan
Aher-Dedy itu, mengingat warga Jabar ada sekitar 49,1 juta orang. Lalu siapakah
warga “parpol golput”?
Mereka itu antara lain generasi
muda yang melek politik dan muak terhadap perilaku para politisi dan kader
parpol formal. Mereka kecewa kepada para
wakil rakyat, yang hobinya bener-benar mewakili rakyat dalam hal hidup mewah,
mencuri uang rakyat, pelesiran dengan dalih studi banding, berbuat maksiat,
serta tidak adil alias mengutamakan golongan dan parpolnya.
Selain itu, ada pula di antara
mereka adalah keluarga besar politisi Muslim yang dulu sempat mengalami
kejayaan di masa Partai Masyumi. Ya, mereka itu keluarga besar Syarikat Islam
(SI) Indonesia, yang di masa pra reformasi namanya Partai Syarikat Islam
Indonesia (PSII) 1905. Warga SI Indonesia ini bebeda dengan SI lain yang kini
bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan atau parpol lain.
Mereka tetap istiqomah memegang teguh sikap politiknya sebagaimana dimasa PSII
1905 di pimpin oleh almarhum HM Ch Ibrahim dan H Bustamam, SH. Realitas itu
penulis ketahui, baru-baru ini.
Ceritanya, setelah 28 tahun
hijrah ke Bandung, penulis di undang mereka dalam acara Diseminasi Generasi
Emas Syarikat Islam (Gemasi) untuk bangsa yang di adakan Majelis Pendidikan SI
Indonesia Jabar, di Gedung Pusdiklat, Cikeruh Sayang, Kab. Sumedang, Minggu
(12/1). Guru ngaji penulis yang mengajarkan berpolitik “sebersih-bersih
tauhid-Nya”, HM Mufti kini di amanahkan sebagai Presiden PP SI Indonesia. Dia
tetap menyatakan tak tergoda bujukan rayu para politisi yang “cinta dunia” dan
gemar berbuat musyrik atau mengotori tauhid-Nya.
Ya, politik SI Indonesia
“sebersih-bersih tauhid-Nya”, tentu rada aneh di tengah maraknya perilaku
politik “menghalalkan segala cara” di masa kini. Realitas ini bermakna pula,
pemenang pesta demokrasi hakikatnya adalah “partai ateis”. Pasalnya, saat
korupsi, mereka itu sengaja berperilaku meniadakan Tuhannya alias ateis. Kalau
begitu, yang terjadi ialah peratrugan antara “partai golput” versus “partai
ateis” atau “partai konspirasi setan”? Achmad Setiyaji/”PR”)***
di kutip dari media harian PR rublik kolom opini, Jum'at (5/4) 2013.
di kutip dari media harian PR rublik kolom opini, Jum'at (5/4) 2013.
Label:
Artikel
18.41
Jangan kau tuduh aku
Tuduh aku selingkuh
Sadarkah ucapanmu adalah doamu
Jangan kau tuduh aku
Tuduh aku selingkuh
Sadarkah tuduhanmu
Akhirnya yang ajariku ‘tuk selingkuh
Jangan kau tuduh aku
Tuduh aku selingkuh
Sadarkah ucapanmu adalah doamu
Dan jangan kau tuduh aku
Tuduh aku selingkuh
Akhirnya yang ajariku ‘tuk selingkuh
Reff:
Makanya kamu jangan sembarangan berkata
Karena setiap kata adalah doa
Inilah akibatnya kau sering menuduhku
Inilah akibatnya kamu memojokkanku
Akhirnya aku selingkuh
Makanya kamu jangan sembarangan berkata
Karena setiap kata adalah doa
Inilah akibatnya kau sering menuduhku
Inilah akibatnya kamu memojokkanku
Inilah akibatnya kau sering menuduhku
Inilah akibatnya kamu memojokkanku
Akhirnya aku selingkuh
Lirik Lagu Wali Band “Jangan Tuduh Aku”
Walau tidak mutlak sya’ir di atas ada benarnya pula, kecenderungan psikologis orang kalau terus di tuduh atau di pojokkan “mungkin” akan berbuat juga, missal seorag suami yang terus menerus di tuduh melakukan perselingkuhan bahkan cenderung di pojokkan, bisa saja dia berfikir akan melakukannya juga, hal itu “wajar” bagi sebagian orang. Lah…kan gua udah lu tuduh apa boleh buat…!!!
PERSELINGKUHAN dalam wujud dan motif apapun dalam Agama Islam sangat di larang, di benci bahkan di haramkan, sudah barang tentu karena banyak madarat yang di timbulkan oleh perbuatan itu.
PERSELINGKUHAN tidak selalu berwujud zina alias mesum. Dalam perjalanan bangsa kita Indonesia tercinta banyak sekali kita jumpai perselingkuhan dalam bentuk dan model yang berbeda-beda, perselingkuhan Idiologi Islam, Komunis dan Nasionalis melahirkan anak haram yang berbentuk idiologi NASAKOM ala Soekarno. Yang terbukti tidak mampu membenahi rumah Indonesia ini.
PERSELINGKUHAN tidak selalu berwujud zina alias mesum. Tetapi, bisa juga berujud memanfaatkan kekuasaan dan kedudukan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Perselingkuhan semacam ini, terjadi hampir di segala bidang. Banyak pejabat negara yang menjadi komisaris utama di berbagai perusahaan. Akibatnya, geliat binis dan ekonomi nasional dilakukan tanpa mengikuti kaidah semestinya, dan cenderung potong kompas, dengan menggunakan pisau kekuasaan yang melekat pada diri pejabat yang dijadikan beking dengan sebutan pendiri dan komisaris (pemegang saham).
Berubahnya konstelasi politik dan ekonomi pasca-Soeharto membuat kekuasaan tersebar serta pengaruh politiknya terbatas. Akibatnya, upaya untuk mendapatkan kemudahan dan proteksi politik dalam berbisnis makin rumit dan berbiaya tinggi. Semakin banyak kelompok politik yang harus didekati dan disuap, sehingga biaya transaksi malah melampaui keuntungan dari rente.
Corporate state merupakan negara yang penguasanya berkolaborasi dengan para pengusaha, baik dari dalam maupun luar negeri, atau penguasa sekaligus pengusaha. Dimana-mana terjadi kapitalisasi pendidikan, privatisasi sumberdaya alam, BUMN dijual, kapitalisasi layanan publik dan kapitalisasi politik. Negara menjadi instrumen kepentingan bisnis dan mengabdi kepada pemilik modal yang sebagian besar merupakan perusahaan asing dari negara besar seperti AS. Penguasa menjadi pelayan bagi kepentingan asing sembari mereguk manfaat bagi dirinya dan kelompoknya.
Perselingkuhan pejabat dan pengusaha sudah terbukti merugikan rakyat, merugikan perekonomian nasional, namun hal itu masih saja berlangsung hingga kini. Padahal, bila geliat usaha hasil perselingkuhan itu mengalami musibah, maka muncul ketidak-adilan dan diskriminasi.
Apabila penguasa berselingkuh dengan pengusaha, akan melahirkan Fir’aunisme diktator. Jika pengusaha menjilat penguasa, niscaya Qarunisme serakah akan merajalela. Keduanya, sosok tercela dalam membangun negara yang adil dan sejahtera. Akibatnya, rakyat menderita, kesengsaraan kian merata.
Fenomena yang berkembang di masyarakat dewasa ini ada istilah yang lazim di ungkapkan oleh sebagian orang bahwa ‘selingkuh itu indah’. Setelah kita teliti hal itu hanya ada pada perselingkuhan antara sastra dan budaya, jika memang hubungan keduanya itu di anggap perselingkuhan. Buktinya ragam ekspresi sastra di Indonesia bisa di maknai sebagai sebuah politik identitas pendakuan diri, perihal ‘kelas’ dan jati diri.
Syariah pun menjadi Solusi.
“maka nikahilah wanita-wanita kamu senangi: dua, tiga atau empat”. QS An-Nisa (4): 3.
Solusi dari semua permasalahan perselingkuhan itu adalah Syari’at. Penggalan ayat di atas merupakan intruksi dari Alloh SWT, apabila kita saggup untuk berbuat adil kita di perbolehkan untuk menikahi wanita lebih dari satu dan jangan melebihi empat, yang konon katanya di akhir jaman ini perbandingannya adalah satu berbanding 73, tentu dalam hal ini visi dan misi dari pernikahan yaitu membangun Bahtera rumah Nuh tidak pula di lupakan… !!!
BUKAN SELINGKUH, TAPI………….!!
Written By Syarikat Islam Indonesia (SMD) on Rabu, 27 Februari 2013 | 18.41
Jangan kau tuduh akuTuduh aku selingkuh
Sadarkah ucapanmu adalah doamu
Jangan kau tuduh aku
Tuduh aku selingkuh
Sadarkah tuduhanmu
Akhirnya yang ajariku ‘tuk selingkuh
Jangan kau tuduh aku
Tuduh aku selingkuh
Sadarkah ucapanmu adalah doamu
Dan jangan kau tuduh aku
Tuduh aku selingkuh
Akhirnya yang ajariku ‘tuk selingkuh
Reff:
Makanya kamu jangan sembarangan berkata
Karena setiap kata adalah doa
Inilah akibatnya kau sering menuduhku
Inilah akibatnya kamu memojokkanku
Akhirnya aku selingkuh
Makanya kamu jangan sembarangan berkata
Karena setiap kata adalah doa
Inilah akibatnya kau sering menuduhku
Inilah akibatnya kamu memojokkanku
Inilah akibatnya kau sering menuduhku
Inilah akibatnya kamu memojokkanku
Akhirnya aku selingkuh
Lirik Lagu Wali Band “Jangan Tuduh Aku”
Walau tidak mutlak sya’ir di atas ada benarnya pula, kecenderungan psikologis orang kalau terus di tuduh atau di pojokkan “mungkin” akan berbuat juga, missal seorag suami yang terus menerus di tuduh melakukan perselingkuhan bahkan cenderung di pojokkan, bisa saja dia berfikir akan melakukannya juga, hal itu “wajar” bagi sebagian orang. Lah…kan gua udah lu tuduh apa boleh buat…!!!
PERSELINGKUHAN dalam wujud dan motif apapun dalam Agama Islam sangat di larang, di benci bahkan di haramkan, sudah barang tentu karena banyak madarat yang di timbulkan oleh perbuatan itu.
PERSELINGKUHAN tidak selalu berwujud zina alias mesum. Dalam perjalanan bangsa kita Indonesia tercinta banyak sekali kita jumpai perselingkuhan dalam bentuk dan model yang berbeda-beda, perselingkuhan Idiologi Islam, Komunis dan Nasionalis melahirkan anak haram yang berbentuk idiologi NASAKOM ala Soekarno. Yang terbukti tidak mampu membenahi rumah Indonesia ini.
PERSELINGKUHAN tidak selalu berwujud zina alias mesum. Tetapi, bisa juga berujud memanfaatkan kekuasaan dan kedudukan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Perselingkuhan semacam ini, terjadi hampir di segala bidang. Banyak pejabat negara yang menjadi komisaris utama di berbagai perusahaan. Akibatnya, geliat binis dan ekonomi nasional dilakukan tanpa mengikuti kaidah semestinya, dan cenderung potong kompas, dengan menggunakan pisau kekuasaan yang melekat pada diri pejabat yang dijadikan beking dengan sebutan pendiri dan komisaris (pemegang saham).
Berubahnya konstelasi politik dan ekonomi pasca-Soeharto membuat kekuasaan tersebar serta pengaruh politiknya terbatas. Akibatnya, upaya untuk mendapatkan kemudahan dan proteksi politik dalam berbisnis makin rumit dan berbiaya tinggi. Semakin banyak kelompok politik yang harus didekati dan disuap, sehingga biaya transaksi malah melampaui keuntungan dari rente.
Corporate state merupakan negara yang penguasanya berkolaborasi dengan para pengusaha, baik dari dalam maupun luar negeri, atau penguasa sekaligus pengusaha. Dimana-mana terjadi kapitalisasi pendidikan, privatisasi sumberdaya alam, BUMN dijual, kapitalisasi layanan publik dan kapitalisasi politik. Negara menjadi instrumen kepentingan bisnis dan mengabdi kepada pemilik modal yang sebagian besar merupakan perusahaan asing dari negara besar seperti AS. Penguasa menjadi pelayan bagi kepentingan asing sembari mereguk manfaat bagi dirinya dan kelompoknya.
Perselingkuhan pejabat dan pengusaha sudah terbukti merugikan rakyat, merugikan perekonomian nasional, namun hal itu masih saja berlangsung hingga kini. Padahal, bila geliat usaha hasil perselingkuhan itu mengalami musibah, maka muncul ketidak-adilan dan diskriminasi.
Apabila penguasa berselingkuh dengan pengusaha, akan melahirkan Fir’aunisme diktator. Jika pengusaha menjilat penguasa, niscaya Qarunisme serakah akan merajalela. Keduanya, sosok tercela dalam membangun negara yang adil dan sejahtera. Akibatnya, rakyat menderita, kesengsaraan kian merata.
Fenomena yang berkembang di masyarakat dewasa ini ada istilah yang lazim di ungkapkan oleh sebagian orang bahwa ‘selingkuh itu indah’. Setelah kita teliti hal itu hanya ada pada perselingkuhan antara sastra dan budaya, jika memang hubungan keduanya itu di anggap perselingkuhan. Buktinya ragam ekspresi sastra di Indonesia bisa di maknai sebagai sebuah politik identitas pendakuan diri, perihal ‘kelas’ dan jati diri.
Syariah pun menjadi Solusi.
“maka nikahilah wanita-wanita kamu senangi: dua, tiga atau empat”. QS An-Nisa (4): 3.
Solusi dari semua permasalahan perselingkuhan itu adalah Syari’at. Penggalan ayat di atas merupakan intruksi dari Alloh SWT, apabila kita saggup untuk berbuat adil kita di perbolehkan untuk menikahi wanita lebih dari satu dan jangan melebihi empat, yang konon katanya di akhir jaman ini perbandingannya adalah satu berbanding 73, tentu dalam hal ini visi dan misi dari pernikahan yaitu membangun Bahtera rumah Nuh tidak pula di lupakan… !!!
Label:
Artikel
18.36
Dasar
anak-anak, ia berteriak lagi, "Hei! Siapa kau?" Jawaban yang
terdengar, "Hei! Siapa kau?" Lantaran kesal mengetahui suaranya
selalu ditirukan, si anak berseru, "Pengecut kamu!"
Cerita Dari Gunung
Written By Syarikat Islam Indonesia (SMD) on Senin, 28 Januari 2013 | 18.36
Seorang
bocah mengisi waktu luang dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya. Entah
mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh. "Aduhh!"
jeritannya memecah keheningan suasana pegunungan. Si bocah amat terkejut, ketika
ia mendengar suara di kejauhan menirukan teriakannya persis sama, "Aduhh!"
Dasar
anak-anak, ia berteriak lagi, "Hei! Siapa kau?" Jawaban yang
terdengar, "Hei! Siapa kau?" Lantaran kesal mengetahui suaranya
selalu ditirukan, si anak berseru, "Pengecut kamu!"
Lagi-lagi
ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan serupa. Ia bertanya kepada sang
ayah, "Apa yang terjadi?"
Dengan
penuh kearifan sang ayah tersenyum, "Anakku, coba perhatikan." Lelaki itu berkata keras,
"Saya kagum padamu!"
Suara
di kejauhan menjawab, "Saya kagum padamu!" Sekali lagi sang ayah berteriak "Kamu sang
juara!" Suara itu menjawab, "Kamu
sang juara!"
Sang
bocah sangat keheranan, meski demikian ia tetap belum mengerti. Lalu sang ayah
menjelaskan, "Suara itu adalah GEMA, tapi sesungguhnya itulah
KEHIDUPAN."
Kehidupan
memberi umpan balik atas semua ucapan dan tindakanmu.
Dengan
kata lain, kehidupan kita adalah sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan kita. Bila kamu ingin
mendapatkan lebih banyak cinta di dunia
ini, ya ciptakan cinta di dalam hatimu.
Bila
kamu menginginkan hasil yang membahagiakan, ya tingkatkan kemampuan itu. Hidup
akan memberikan kembali segala sesuatu yang telah kau berikan kepadanya. Ingat, hidup bukan sebuah kebetulan tapi sebuah bayangan dirimu.
Label:
Artikel
18.16
Orang yang
menetapi SUNNAH, mesti akan mengikuti cara apapun yang datangnya dari
Rasululloh. Cara berAqidah, cara berIbadah, berMuamalah, cara berJuang, cara
sholat dsb wajib mengikuti tata cara yang ditempuh oleh Rasululloh SAW. Pantang
melakukan yang tidak sesuai dengan uswah beliau SAW.
Terulangnya suatu peristiwa yang
dialami para Nabi dan rasul terdahulu, kemudian terulang kembali peristiwa
tersebut pada masa tertentu yang akan datang dengan Idzin Alloh atau setelah
memenuhi persyaratan-persyaratan SUNNAH.
KEMBALI KEPADA SUNNAH (bagian kedua)
SUNNAH dalam arti; Cara (Methode) Yang Diadakan: Sabda
Nabi
”barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang baik.....
Dan barang siapa mengada-adakan suatu cara yang
jelek........
Orang yang
menetapi SUNNAH, mesti akan mengikuti cara apapun yang datangnya dari
Rasululloh. Cara berAqidah, cara berIbadah, berMuamalah, cara berJuang, cara
sholat dsb wajib mengikuti tata cara yang ditempuh oleh Rasululloh SAW. Pantang
melakukan yang tidak sesuai dengan uswah beliau SAW.
Orang yang
mengaku menetapi SUNNAH, tetapi tidak mengikuti jejak Rosululloh, berarti ia
telah mengada-adakan cara yang jelek (bid’ah), terlebih bid’ah dalam ibadah,
sebagai contoh tentang praktek Sholat yang mestinya diawali dengan takbir
kemudian diakhiri dengan salam, kemudian praktek Sholat tersebut diganti dengan
cara baru yaitu ruku’ dulu atau salam dulu lau kemudian diakhiri dengan takbir,
ini artinya mengada-ada yang tidak sesuai dengan contoh Rasululloh. Praktek
sholat yang demikian hukumnya tidak syah, karena praktek Sholat yang syah
adalah harus tertib sebagaimana telah diatur dalam bab Sholat.
Demikian pula
dalam mempraktekan Rukun Islam yang lima, inipun harus tertib sebagaimana yang
disabdakan oleh Rasululloh SAW. Diawali dari SYAHADAT, SHOLAT, ZAKAT, SHOUM dan
HAJI. Salah mempraktekan rukun Islam berarti ia telah mengada-ada atau dengan
kata lain bid’ah.
” dari ibnu Abbas ra. Berkata: ” Rasululloh SAW.
Bersabda :” Alloh enggan akan menerima amal perbuatan orang ahli bid’ah,
sehingga ia akan meninggalkan bid’ahnya”. (HR. Ibnu Majah)
SUNNAH dalam arti; Jalan Yang Telah Dilalui:
Suatu perjalanan
Rasululloh dari awal Risalahnya dengan segala pengamalan wahyu Alloh
(al-Qur’an) secara sempurna sampai akhir hayatnya. Perjalanan yang telah
dilalui oleh Rasul adalah suatu perjalanan yang lengkap, pendek kata,
Rasululloh telah menjadikan Qur’an sebagai akhlak semasa hidupnya. Seperti yang
dikatakan A’isyah dalam Hadistnya:
”Bahwa akhlaq rasululloh adalah al-Qur’an”
Perjalanan
beliau dimulai dengan da’wah siir maupun jahr, dengan segala
rintangan-rintangan yang dihadapinya sampai rasululloh SAW. Hijrah ke Habsy dan
ke Yastrib, kemudian beliau Jihad membangun sebuah nilai kemenangan terhadap
musuh-musuhnya sampai MERDEKA-nya Mekah ditangan kaum Muslimin.
Inilah jalan
yang dilalui dalam perjuangannya dan berakhir dengan kemenangan dipihak
Rasululloh. Alloh SWT berfirman :
orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad
di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi
derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
Q.S. at-Taubah (9:20)
Rasululloh
bersabda : dari Aisyah ra.
”Aku melaknat mereka dan Allohpun melaknatnya......
Kepada siapa yang meninggalakan SUNNAHKU”
(HR. Thirmidzi)
Rasululloh telah meletakkan
dasar-dasar perjuangan yang harus dilalui oleh setiap pejuang Islam. Dengan
langkah Iman yang diteruskan dengan adanya langkah HIJRAH (Transpormasi lembaga
Daulah) kemudian dilanjutkan dengan JIHAD dan seterusnya.
Adakah perjuangan politik Islam
dewasa ini telah mengalami kegagalan disebabkan faktor tersebut???.
SUNNAH dalam arti ; Kejadian yang terulang kembali.
Firman Alloh SWT:
”Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah
Allah, karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana
akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).Q.S.ali Imran(3):137
Dari ayat diatas, maka makna SUNNAH
adalah:
SAUDARAKU....!
Kontek persoalan yang sedang
dihadapi kita dewasa ini, berkisar bagaimana meletakkan dasar Islam dalam
methode perjuangan?. Yang ada hanya perpecahan bukan persatuan dan kesatuan.
Kembali kepada SUNNAH yang pernah ditempuh oleh Rasululloh dan para Khalifah
yang lurus dalam petunjuk adalah satu-satunya jaminan terhindar dari
perpecahan, menuju kepada kesatuan hati, kesatuan pandang dan tujuan.
@kholil
Label:
Artikel
01.34
Bila
kita merenungkan semua itu, kita akan teringat pada sabda Rasululloh saw. Bahwa
sesungguhnya dalam jasad manusia ada mudghoh
(segumpal daging) yang bila sejahtera keadaannya, akan sejahteralah semua karya
dan ciptannya; tetapi bila ia rusak, akan hancurlah segala karya dan ciptaya. Mudghoh itu adalah qolbu (ruhani).
JANGAN MAJU DIHADANG JURANG
Written By Syarikat Islam Indonesia (SMD) on Jumat, 25 Januari 2013 | 01.34
Bila
kita perhatikan keadaan sekarang ini, alangkah majunya industri kita
kahir-akhir ini di bandingkan tahun-tahun jauh sebelumnya. Kita brsyukur ke
hadirat Alloh SWT, yang telah mengkaruniakan segalanya itu untuk kesejahteraan
bangsa kita semua.
Orang
akan kagum bisa melihat kemajuan ummat manusia pada abad sekarang ini, misalnya
kemajuan industri Negara kita ini. Semua kemajuan itu akan terpelihara
selama-lamanya apabila setiap rohani manusia terpelihara pula. Bukankah
keagungan bangsa bukan hanya ditandai dengan menjulangnya gedung-gedung
pencakar langit, tetapi pada keagungan rohaninya yang akan memelihara segala
hasil karya yang di baktikan bagi kepentingan ummat manusia? Bukankah betapapun
dahsyatnya pembangunan, akan hancur juga oleh hancurnya rohani manusia?
Bukankah ke angkaraan rohani Hitler telah menghancurkan segala karya budaya
manusia di dunia dahulu?
Rohani
bisa jadi “tuan kuasa” dalam hidup
manusia. Bagaimanapun rendahnya puncak gunung, tak akan terinjak oleh kaki
manusia bila tidak ada tekad rohani manusia untuk berbuat demikian. Akan
tetapi, bagaimanapun tinggi dan menjulangnya Mount Enerest di Himalaya,
terinjak pula oleh kaki Sir Edmund Hilary, walaupun pada mulanya di duga hal
itu tidak mungkin terjadi. Hati telah bertekad dan memantapkan jiwa rohani
manusia.
Bila
kita merenungkan semua itu, kita akan teringat pada sabda Rasululloh saw. Bahwa
sesungguhnya dalam jasad manusia ada mudghoh
(segumpal daging) yang bila sejahtera keadaannya, akan sejahteralah semua karya
dan ciptannya; tetapi bila ia rusak, akan hancurlah segala karya dan ciptaya. Mudghoh itu adalah qolbu (ruhani).
Kembali
kepada kemajuan industri tadi., contohnya adalah adanya makanan kaleng yang
disenangi oleh sebagian besar bangsa kita karena memenuhi syarat praktis serta
harganyapun cukup ringan. Makanan kaleng itu, misalnya corned, memang praktis. Bila kita hendak memakannya, kita tinggal
membuka dan menghangatkannya beberapa menit saja, kemudian siap untuk di
santap.
Akan
tetapi timbul keragu-raguan dalam diri sebagian orang. Berapa ekor sapikah yang
diperlukan sehari untuk produksi corned
ini? Disembelih oleh berapa orang, serta berapa orang pekerjakah untuk
merecahnya? Ternyata pemikiran seperti ini sudah jauh tertinggal. Kita skarang
telah maju, hidup pada zaman yang seba mesin. Prusahaan corned itu menggunakan mesin potong elektrik untuk memotong
sapi-sapi itu; dan dengan serba otomatis daging itu di recah dan terpisahlah
bagian-bagiannya, kemudian tinggal mngolahnya dan memasukannya ke dalam kaleng!
Menyaksikan
semua itu, di samping akan merasakan kekaguman, orang pasti akan termangu.
Orang akan bertanya, “mengapa tidak di sembelih seperti biasa saja?” pertanyaan
itu akan di jawab, bahwa hal itu hanya akan melambatkan kerja saja, kurang
efektif, dan tidak memenuhi efesiensi kerja, cara itu akan menurunkan
produktivitas kerja, sedangkan kebutuhan sangat besar.
Mahasiswa
yang merantau jauh dari orang tuanya sering membeli makanan kaleng seperti itu.
Hal ini di maksudkan untuk sekedar memudahkan bila hendak makan, tinggal
membukanya dan memanaskannya sebentar, lalu siap untuk di santap.
Bagi
orang Islam yang sedikit banyak juga mengenal masalah hukum-hukum sembelihan
dalam islam, persoalannya jelas, harus berhenti makan makanan tersebut, sebab
hukumnya makan bangkai atau binatang yang disembelih tidak berdasarkan
persyaratan syara’ haram hukumnya. Kejadian itu berlaku.
INGAT
DAN CAMKAN...!!!!
Sebagai
orang islam, jika kita menghadapi suatu makanan, bukan enak dan lezatnya saja
yang harus kita fikirkan; tetapi kita harus ingat pula halal kah makanan itu?
Akan tahankan perut kita, sanggup kah perut kita mencernanya? Tidakkah
kesehatan kita terganggu karenanya? Bervitamin kah makanan itu? Dan
lain-lainmya.
Yang
lebih penting lagi, dalam hidup manusia beriman, di beri alat pengukur oleh
Alloh, yaitu halal dan haram! Mana yang halal, kerjakanlah! Mana yang haram,
tinggalkanlah! Semua itu akan menjadikan dirinya baik, baik di dunia maupun di
akhirat nanti; lahir serta bathin terpenuhi keperluannya!
Apabila
manusia di biarkan mengukur sendiri dalam segala gerak dan tindakannya, maka
tidak ada ukuran lain selain “ senang bagi dirinya, enak bagi dirinya, untung
bagi dirinya, tidak peduli bagi orang lain! Akibatnya untung bagi dia rugi bagi
orang lain, senang bagi dirinya, susah bagi orang lain, sehingga menimbulkan
rasa iri, dengki dan benci antara sesama manusia. Alloh telah menjauhkan
manusia dari akibat ini dengan cara menurunkan segala peraturan-Nya. Apabila
kita ikuti, maka kita akan di bawanya ke Jannah (sorga) tempat segala
kesejahteraan. Akan tetapi jika kita tidak mengikutinya, maka kita akan
terdorong ke jurang Jahannam.
JELASLAH.........!!!!!!!!!!
Orang
bijaksana tidak akan MAJU DIHADANG JURANG.
(by.Kholil)
Label:
Artikel
01.19
BELAJAR DARI PENGALAMAN (bagian II)
Inilah
hidup yang sadar dan sempurna karena mendapat bimbingan petunjuk dari Alloh.
Karena taat kepada hukum dan syari’at-Nya. Orang yang duduk dalam kehidupan
Ma’any itu, tidak lagi mengenal sakit dan sukar, berat dan susah, takut dan
was-was, melainkan semuanya itu akan menjadi jembatan menuju kesempurnaan hidup
dibawah rahmat dan karunia Alloh SWT.
Firman
Alloh SWT :
“kemudian kitab
itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih diantara hamba-hamba kami,
lalu diantara ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan diantara mereka ada
yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih cepat bearbuat
kebaikan dengan ijin Alloh. Yang demikian itu adalah karena karunia yang amat
besar”. (Qs.35:32)
Hidup
kita berlalu dengan waktu, dan sedetik waktu yang kita lewatkan tak pernah akan
kembali. Waktu-waktu yang kita lalui
harus punya nilai, nilai yang dimaksudkan: apakah waktu itu dipergunakan untuk
mengabdi kepada Alloh dan berpahala dengan kebaikan. Atau waktu itu
dipergunakan untuk kemaksiatan dan dosa dihadapan Alloh SWT, atau waktu nol tak
berarti.
Dalam
persoalan inilah,orang yang hidup dengan sadar akan arti kehidupannya akan
selaluberhitung dengan waktu yang dilewatkannya.sehingga Alloh berfirman:
“demi waktu.sesungguhnya manusia itu
benar-benar berada dalam kerugian.kecuali oarng-orang yang beriman dan
mengerjakan amal sholeh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan
nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran”.
(Qs.103:1-3)
Dengan
waktu, banyak orang yang merugi dan dengan waktu itu pula sedikit sekali orang
yang beruntung karena mereka tidak pandai dalam mempergunakan waktunya, semboyan
orang-orang beriman “waktu itu adalah ibadah”, hidup untuk ibadah.
Marilah
masing-masing diri untuk menghisab dan berhitung dengan waktu yang sudah dilewatkan
dan waktu yang akan datang, hitunglah umur kita kurang lebih rata-rata 60 tahun-an.
Bagi laki-laki dikurangi waktu sebelum ‘aqil
baligh 15 tahun dan sisanya berarti 45 tahun. Kemudian hitung waktu tidur
rata-rata pada umumnya 8 jam dalam satu hari. Dikalikan 45 tahun sama dengan 15
tahun sisa 30 tahun. Waktu bekerja 8 jam per hari dalam 30 tahun sisanya 15
tahun. Waktu lain-lain kurang lebih dan kebanyakan lebih dari 5-6 jam per hari
sama dengan 10 tahun sehingga sisa waktu hidup kita kurang lebih tinggal 5
tahun lagi. Lalu kapan solat kita, jihad, dakwah, tugas-tugas ilahiyah dan
ibadah ? sementara waktu yang kita lewatkan sudah habis dengan tidur 15 tahun.
Kerja 15 tahun, bicara (ngobrol) 10 tahun lain-lain tak terhitung. Benarlah Alloh
berfirman dalam surat al-ashr, bahwa kebanyakan manusia merugi dalam
mempergunakan waktunya.
Rosululloh
bersabda :
“tahukah
kamu,siapakah orang yang jatuh pailit itu(merugi) ?m .para sahabat menjawab:
“orang yang jatuh pailit ialah orang yang tidak mempunyai uang dan tidak
mempunyai harta.Rosul menjawab : “sesungguhnya orang yang jatuh pailit dari
ummatku ialah orang yang dihari qiamat datang dengan membawa pahala
sholat,pahala shoum dan zakat,disamping itu ia telah mencaci maki ini,menuduh
ini,dan memukul ini,maka ia menerima keburukannya dari ini dan dari kebaikannya,apabila
kebaikan itu habis sebelum selesai memenuhi tuntutan orang-orang yang mempunyai
hak,maka diambilah kesalahan-kesalahan orang tersebut kemudian dilemparkan
kepadanya,kemudian dilemparkan kedalam neraka”.(HR.Muslim dari
Abi Hurairah)
Tidak
ada seorangpun dalam usahanya ingin mengalami kerugian apalagi mengalami
kebangkrutan. Orang yang dalam hidupnya di dunia tidak mempunyai harta dan uang
serta mengalami kerugian dalam usahanya(niaga). Itu belum termasuk orang yang
jatuh pailit, sebab masih ada tempat dan lapangan untuk ma’isyah dan berusaha. Tetapi orang yang jatuh pailit (rugi) ialah
orang yang dikala hidupnya ahli sholat, shoum, zakat, haji dan segala macam
amal kebaikan, disamping itu pula ia juga melakukan amal-amal jelek seperti
mencaci maki orang lain, menuduh dan memakan harta orang lain tanpa hak dan
sebagainya.
Orang
yang semacam ini dihari kiamat akan dihisab antara amal kebaikan dengan amal
kejelekannya sampai pahala kebaikan itu sudah habis, padahal orang yang
menuntut haknya karena merasa dirugikan didunia masih banyak,maka habislah
pahala kebaikannya tinggallah sisa kejelekannya berupa dosa, dan dilemparkan
kedalam neraka seperti dalam hadits diatas.
Perhatikan
firman Alloh SWT :
“apabila
sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab diantara mereka pada
hari itu,dan tidak ada pula mereka saling bertanya.barang siapa yang berat
timbangannya(kebaikannya) maka mereka itulah orang-orang yang
mendapatkeberuntungan. Dan barang siapa yang ringan timbangannya,maka itulah
orang-orang yang merugikan dirinya sendiri,mereka kekal didalam neraka
jahanam.muka mereka dibakar api neraka,dan mereka didalam neraka itu dalam
keadaan cacat”.(Qs.23 : 101-104)
Maka
jelaslah dari ayat diatas, bahwa orang yang berat timbangan kebaikan ia akan memperoleh
keberuntungan dan orang yang ringan timbangannya, ia akan memperoleh kerugian
dan mereka kekal didalam neraka jahanam.
Sebagai
jalan keluar (way out) dari kesulitan ini, kita harus merencanakan hidup yang
lebih baik dengan mengejar nilai-nilai keutamaan yang tinggi disisi Alloh, mardhotillah adalah satu-satunya alternatif bagi hamba Alloh dengan penuh
pengabdian dan mengisi waktu dengan ibadah dan memperoleh pahala kebaikan
selama hidupnya.
Firman
Alloh SWT :
“katakanlah :
sesungguhnya sholatku,.ibadahku,hidupku,dan matiku hanyalah untuk Alloh,Robb
semesta alam,tiada sekutu bagi-Nya,dan demikian itulah yang diperintahkan
kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri(kepada
Alloh)”. (Qs.6 : 16-163)
“dan dirikanlah
sholat itu pada kedua tepi siang(pagi dan petang) dan pada sebagian permulaan
daripada malam.sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapus
(dosa)perbuatan-perbuatan yang buruk.itulah peringatan bagi orang-orang yang
ingat”.dan bersabarlah,karena sesungguhnya Allohtiada menyia-nyiakan pahala
orang-orang yang berbuat kebaikan”.(Qs.11 :114-115)
Jihad
adalah bagian daripada nilai ibadah yang tertinggi nilainya disisi Alloh, untuk
menghapus nilai-nilai kejelekan (syayyi’at).
Firman
Alloh SWT :
“orang-orang
yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Alloh dengan harta benda dan
diri mereka,adalah lebih tinggi derajatnya disisi Alloh,dan itulah orang-orang
yang mendapat kemenangan”. (Qs 9:20)
Renungkanlah
kawan….!!!!
(by.kholil)
Label:
Artikel
01.12
BELAJAR DARI PENGALAMAN (bagian I)
“hai orang-orang
yang beriman,bertaqwalah kepada alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan
apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat),dan bertaqwalah kepada
alloh,sesungguhnya alloh maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(Qs.59 : 18)
Setiap
mukmin semestinya sadar dan menyadari akan langkah dan gerak perilaku kehidupan
selama ini. Dari mana asal hakikat adanya kehidupan ini, untuk apa kita hidup
di dunia sebenarnya dan bagaimana akhir perjalanan hidup manusia nantinya. Dilematis pertanyaan setiap diri akan
selalu ada, karena setelah manusia diciptakan dari setetes darah sampai kepada
kesempurnaan kejadiannya -dengan akal dan pikirannya- selalu berhadapan pada objektifitas kehidupan maupun subjektifitasnya.
Kesadaran
inilah satu faktor yang akan menghantarkan jiwa manusia, baik lahir maupun bathin kepada satu sikap yang pasti dan stabil. Tanpa memahami dan
sadar akan arti kehidupan selama ini, manusia akan terperosok kelembah kehinaan
menurut pandangan Ilahiyah. Bahkan
hidup bagaikan kehidupan binatang yang tak tahu aturan dan tidak mau diatur
dengan hukum Sang Pencipta alam semesta Yang Maha Tahu.
Kehidupan
yang tidak sadar akan arti hidup, biasanya disebut hidup hissy, adalah kehidupan yang hanya untuk kepentingan diri
sendiri yang selalu dikejar hanya kepentingan yang berkenaan dengan dirinya. Dengan rumah
tangganya kadang kadang ia bergerak di khalayak ramai, tetapi bergeraknya itu
hanya untuk kepentingan pribadi, keperluan kasar, keperleuan materi.
Orang
yang demikian itu sesungguhnya memiliki sifat “diam”. Bukan “diam”karena tak
kuasa berjalan. Bukan pula diam karena tidak pandai bergerak, tetapi diam yang
dimaksudkan adalah karena tidak pandai atau tidak bisa menjalankan hukum-hukum Alloh.
Hidup
yang demikian itu boleh diibaratkan hidup bagaikan tumbuh-tumbuhan hidup dengan
tidak sadar dan insyaf akan arti dan harga hidupnya.
Firman
alloh SWT:
“dan
(ingatlah),ketika kamu berkata : hai Musa,kami tidak akan beriman kepadamu
sebelum kami melihat Alloh dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar,
sedang kamu menyaksikannya”. (Qs.2 : 55)
Umat
Nabi Musa meminta kepada Nabinya, ingin melihat Alloh dengan pandangan
lahirnya. Ini suatu hal yang mustahil bagi makhluk-Nya karena Alloh berfirman
pada ayat lain :
“dan tatkala
Musa datang untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang telah kami tentukan dan
Robb telah berfirman(langsung) kepadanya,berkatalah Musa : “ya
Robbku,nampakkanlah (diri engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada
engkau”.Robb berfirman :”kamu sekali-kali tidak sanggup melihati-Ku”.tetapi
melihatlah ke bukit itu,maka jika ia tetap di tempatnya(sebagai sediakala)
niscaya kamu dapat melihat-Ku”.tatkala Robbnya Nampak bagi gunung itu,kejadian
itu menjadikan gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan.maka setelah
Musa sadar kembali,dia berkata :”Maha suci engkau dan aku orang yang
pertama-tama beriman”.(Qs. 7 :143)
“dan mereka
berkata :”kehidupan ini tidak lain
hanyalah kehidupan di dunia saja,kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang
membinasakan kita selain masa”,dan mereka sekali-kali tidak mempunyai
pengetahuan tentang itu,mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”. (Qs.45 :
2 4)
Selain
hidup hissy, ada sebagian manusia
yang sudah mulai mempergunakan hidupnya untuk menjalankan hukum-hukum Alloh. Tetapi
belum mempunyai kesadaran cukup. Belum mempunyai keyakinan yang kuat dan teguh.
Ia mudah berubah, mudah pindah haluan dan sikap. Hanya ada sangkutannya dengan
kepentingan dunia belaka. Ia belum mempunyai pendirian yang kuat dan teguh, biasanya
hidup semacam ini disebut hidup Maknawy.
Tingkatan
hidup yang ketiga adalah “hidup Ma’any”.
Dimaksudkan hidupnya dipergunakan untuk melakukan amal kebaikan dan kebajikan
yang banyak lagi sempurna. Amal yang timbul dari keyakinan yang kuat dan iman
yang teguh. Amal yang dilakukannya hanya mengharapkan rahmat dan Ridho Alloh
SWT semata.
Label:
Artikel
15.33
ISLAM AKAN MELUPAKAN ANDA
Written By Syarikat Islam Indonesia (SMD) on Kamis, 24 Januari 2013 | 15.33
Seorang
pengemudi yang telah mendapatkan surat izin mengemudi akan dilindungi
undang-undang lau lintas dan dapat sebebasnya ber-pergian dengan mengemudikan
kendaraannya kemanapun ia kehendaki
Akan
tetapi, undang-undang melindungi serta memelihara dirinya selama ia berlaku
sebagai seorang pengemudi yang juga memelihara undang-undang itu sepanjang
jalan yang dilaluinya.
Izin
mengemudi yang di dapat oleh seorang pengemudi bukanlah berarti ia dapat
berbuat semaunya, sebagaimana undang-undang juga tidak bisa berlaku semaunya
kepada dirinya.
Seorang
pengemudi adalah orang yang tahu cara men-taati segala perundang-undangan lalu
lintas di sepanjang jalan yang dilewatinya. Selama ia tidak lupa akan undang-undang,
maka undang-undangpun tidak akan melupakan dia!!!
Seorang
muslim telah mendapat karunia iman dan Islam yang akan memelihara dirinya untuk
kebaikan dunia akhirat. Islam akan memelihara dirinya dari kesengsaraan dunia
akhirat. Islam akan memberikan perlindungan sepenuhnya, baik di dunia maupun di
akhirat. Islampun akan menjauhkan dirinya dari azab neraka yang maha dahsyat,
dan akan menempatkan dirinya pada kesejahteraan yang tiada tertandingi nikmat
dan lezatnya.
Akan
tetapi Islam melindungi serta memelihara seorang Muslim selama ia sebagai
seorang Muslim yang memelihara Islam di sepanjang jalan kehidupannya.
“Aku (mendahulukan pribadi) Muslim atas segala sesuatunya”!
Aku utamakan
tuntutan dan tuntunan al-Qur’an dan As-Sunnah terlebih dahulu daripada
segalanya!
Hak
seorang Muslim adalah mendapatkan kesejahteraan serta keselamatan, baik lahir
maupun batin, baik di dunia ataupun di akhirat. Bukankah ini terjamin begitu
saja, mendapat hak itu sepenuhnya, dan ia boleh berbuat semaunya, boleh melalaikan
Islam, mengabaikan tuntutan dan tuntunan Islam atas dirinya? Bukan! Sebab bia
ia melupakan Islam, maka Islampun akan melupakan dia dari memelihara dan
melindungi dirinya agar selamat!
Seorang
muslim adalah orang yang tahu caranya men-taati segala tuntutan dan tuntunan
Islam ( al-Qur’an serta jejak Sunnah Rosululloh Saw), dalam sepanjang hidup
yang ditempatinya. Sami’na wa atho’na! (
aku dengar dan aku taat)
Apabila
seorang Muslim lupa akan tanggung jawabnya sebagai seorang Islam maka Islampun
akan melupakan dirinya! Na ‘udzu billahi
min dzalik!
Perhatikan
Firman Alloh SWT, yang menerangkan tentang sifat-sifat hamba Alloh yang
mendapatkan kemuliaan.
63. dan
hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di
atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka,
mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.
64. dan orang
yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka[1].
65. dan
orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, jauhkan azab Jahannam dari Kami,
Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal".
66. Sesungguhnya
Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.
67. dan
orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan
tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang
demikian.
68. dan
orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak
membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang
benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu,
niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),
69. (yakni) akan
dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab
itu, dalam Keadaan terhina,
70. kecuali
orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu
kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.
71. dan
orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, Maka Sesungguhnya Dia
bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.
72. dan
orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu
dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah,
mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
73. dan
orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka,
mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta.
74. dan orang
orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri
Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam
bagi orang-orang yang bertakwa.
75. mereka
Itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang Tinggi (dalam syurga) karena
kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan Ucapan selamat di
dalamnya,
76. mereka kekal
di dalamnya. syurga itu Sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.
77. Katakanlah
(kepada orang-orang musyrik): "Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan
kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), Padahal kamu
sungguh telah mendustakan-Nya? karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)".
Al-Qur’am
Surat al-Furqon (25):63-77
152. karena itu,
ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu[2],
dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.
Al-Qur’am
Surat al-Baqoroh (2):152
“siapa yang
tidak memenuhi amr
(tugas kewajiban) sebagai kaum Muslim,
maka ia tidak termasuk dari padanya (golongan Muslim/orang Islam)
HR.
Abu Nu’aim
Perhatikan
Islam, niscaya anda akan diperhatikan Islam!
Wallohi!!!
Label:
Artikel
Home
