Postingan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label PW SII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PW SII. Tampilkan semua postingan
06.45
DAFTAR EMAIL WANITA SI INDONESIA JAWA BARAT
Written By Syarikat Islam Indonesia (SMD) on Senin, 18 Februari 2013 | 06.45
DAFTAR EMAIL WANITA SI INDONESIA JAWA BARAT - Untuk
mendapatkan passwordnya silahkan hubungi Ibu "Nunung Kaniawati" atau
bisa menghubungi saya (No Kontak : 082121581628) atau di email
(siisumedang@gmail.com) atau di FACEBOOK Syarikat Islam Kabupaten Sumedang.
- wanitasiindonesiagarut@gmail.com
- wanitasiindonesiamajalengka@gmail.com
- wanitasiindonesiasukabumi@gmail.com
- wanitasiindonesiakabbandung@gmail.com
- wanitasiindonesiakotabandung@gmail.com
- wanitasiindonesiatasik@gmail.com
- wanitasiindonesiapurwakarta@gmail.com
- wanitasiindonesiasubang@gmail.com
- wanitasiindonesia.kbb@gmail.com
- wanitasiindonesia.cimahi@gmail.com
- wanitasiindonesia.banjar@gmail.com
- wanitasiindonesia.ciamis@gmail.com
- wanitasiindonesia.bogor@gmail.com
- wanitasiindonesia.indramayu@gmail.com
- wanitasiindonesi.cianjur@gmail.com
- titinsuhartini.jabar@gmail.com (Ketua PW SII)
Label:
PW SII
01.48
“wanita
itu adalah tiang Negara. Bila baik wanitanya maka baiklah Negara dan bila buruk
wanitanya maka buruk pula Negara”.
WANITA DAN FALSAFAH BAHASANYA
Written By Syarikat Islam Indonesia (SMD) on Jumat, 25 Januari 2013 | 01.48
Dilihat
dari segi bahasanya, kata “im-ro-ah” bersaudara atau satu rumpun dengan kata
“mir-aah”. Im-ro-ah bermakna wanita sedang mir-aah bermakna cermin. Lantas apa
hubungannya wanita dengan cermin? ternyata hubungan keduanya saling berdekatan.
Dalam kesusastraan Arab dikatakan, bahwa setiap kata yang berasal dari rumpun
yang sama maka kedua kata itu bermakna satu. Karena itu kedua kata diatas
memberikan satu arti, bahwa wanita
adalah cermin suatu keadaan (generasi).
Disebut
cermin karena sifatnya mampu merefleksikan kepribadian. Mampu memberikan
gambaran suatu kondisi/keadaan. Sifat ini dijelaskan dalam sabda Nabi sebagai
berikut :
“wanita
itu adalah tiang Negara. Bila baik wanitanya maka baiklah Negara dan bila buruk
wanitanya maka buruk pula Negara”.
Sehingga
dalam konteks ini, baik dan buruknya suatu Negara ditentukan oleh generasi
bagaimana yang dihasilkan. Bila wanita di Negara itu baik maka generasi yang
dihasilkan itu pun akan baik dan otomatis Negara itupun akan menjadi baik.
Sebaliknya bila wanita di Negara itu buruk/jahat maka generasi yang akan
dihasilkannya pun akan buruk maka otomatis keadaan Negara itupun menjadi buruk,
jadi baik dan buruknya suatu generasi tergantung kepada wanitanya. Inilah
hakikat “cermin” yang dimaksudkan itu.
Standar Penilaian.
Baik
buruknya suatu penilaian haruslah kembali kepada suatu standar. Standar itu
adalah wahyu yang merupakan produk dari suatu sumber yang serba Maha. Lantas
dari sudut manakah wahyu menilai baik dan buruknya seorang wanita ? untuk
menjawab pertanyaan itu perlu kiranya kita memahami hakekat “wanita” itu
sendiri.
Tinjauan lughoh.
Ditinjau
dari sumber aslinya dalam bahasa Arab “wanita” ditandai atau dicirikan dengan
huruf taa dibelakang kata. Jika ia seorang diri maka taa’ yang di pakai adalah
taa marbuthoh yaitu taa’ yang tertutup.ini memberi arti bahwa wanita yang baik
itu adalah wanita yang selalu menjaga diri dan kehormatannya, senantiasa
menghijab mata dan hatinya, membatasi langkah kakinya serta menutup anggota
tubuhnya dengan jilbab islami. Qur’an yang menjelaskan figur wanita yang baik
seperti dilukiskan dalam ayat berikut :
“dan
ceritakanlah (kisah) maryam di dalam al-Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri
dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir
(yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka
ia menjelma dihadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. (QS.maryam 16-1
7)
Siti
Maryam yang disebut dalam ayat diatas adalah figur wanita Islam yang telah
menjaga diri dan kehormatannya dari kedatangan tamu laki-laki yang tak
dikenalnya. Wanita yang baik tidak akan
memberi peluang sedikitpun bagi laki-laki asing untuk menyentuh dirinya apalagi
kehormatannya. Siti Maryam telah menghijab lebih dulu mata dan hatinya maka
bersamaan dengan itu lahirlah sikapnya menutupkan tabir (yang melindunginya)
dari laki-laki itu. Sambil menutupkan tabir pembatas itu terlontarlah ucapan
isti`adzah dari mulut yang tak henti hentinya berdzikir. Maka berkatalah Maryam
ketika itu:
“sesungguhnya aku berlindung daripadamu
kepada Robb Yang Maha Pemurah, jika kamu
seorang yang bertaqwa”. (Q.S. Maryam: 17)
Demikianlah
gambaran wanita Islam yang telah menjaga kehormatannya dan kesuciannya.
Selanjutnya bila wanita yang seorang tadi sudah tertutup rapi dan menjaga diri
kemudian bertemu dengan wanita lain yang keadaannya sama lalu menjadi banyaklah
bilangannya (jama`) maka tandanya berubah menjadi taa`maftuhah atau taa` yang terbuka. Ini memberi arti
bahwa pada keadaan ini perjuangan wanita Islam sudah siap untuk maju ke medan
namun tetap langkah dan perbuatannya berada di dalam pengwasan walinya.
Kemudian
bila wanita itu menikah dan sudah menjadi istri maka Al Qur`an menyebutnya
dengan “zaujun” yang berarti ”pasangan”. Kedudukannya sama dengan suami.
Keduanya harus ada dalam keserasian dan keharmonisan. Yang satu melindungi dan
yang lain mengasihi. Keduanya berada didalam ikatan ‘mawaddah-warohmah’ yang
membimbing hidup keluarga itu kearah tanggung jawab yang sama beratnya dan sama
murninya. Keduanya menunaikan tugas menurut fitrah yang sudah ditentukan oleh
Allah SWT.
“dan
orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan,sebagian mereka
(adalah)menjadi penolong bagi sebagian yang lain.mereka menyuruh(mengerjakan)
yang ma’ruf,mencegah dari yang mungkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat,
dan mereka taat kepada Alloh dan rasul-Nya.mereka itu akan diberi rahmat oleh
Alloh,sesungguhnya Alloh maha perkasa lagi maha bijaksana.”(QS.at-taubah :71)
Jika
wanita itu sudah mendapatkan anak, maka wanita itupun berubah lagi sebutannya
menjadi “ummun” atau ibu. Kata Ummun itu bertemu dengan kata”Imaamun”dalam satu
rumpun. Imam berari pemimpin. Jadi seorang ibu adalah pemimpin didalam rumahnya
bila suaminya tidak ada dan bertugas mengatur urusan rumah tangga dan mendidik
anak-anaknya. Fungsinya sama dengan Imam di masji-masjid yang memimpin
masyarakat setempat. Maka sang ibu memimpin masyarakat rumah tangga untuk
mendirikan masyarakat yang lebih luas.
Sehingga kata”ummun” juga bertemu dengan
kata “ummat”yang berarti ibu sebagai pembentuk ummat dan ibu juga yang
melahirkan/mengadakan ummat. Dari peran yang dimainkannya ini jelas bahwa ibu
adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam pembentukan watak generasi
yang akan datang. Suatu generasi akan menjadi baik bila keluar dari kandungan
seorang wanita yang baik; wanita yang selalu menjaga kesucian dan kehormatannya
dengan selalu berpegang teguh kepada prinsip-prinsip Islam. Prinsip itulah yang
nantinya yang akan mengangkat derajat
seorang wanita kepada kedudukan mulia seperti yang dijelaskan dalam
hadist :“syurga adalah dibawah telapak kaki kaum ibu”.
Demikianlah
Dien ini telah memutuskan untuk menjadikan Syurga sebagai tujuan semua ummat
manusia,”dibawah telapak kaki ibu!” suatu penghargaan dan kemuliaan yang tiada
taranya. Maka akan berdosalah sang ibu bila mengabaikan pendidikan anaknya
hingga ia tersesat dari jalan-Nya yang lurus.
Kata
ummun juga bertemu juga dengan kata amaama yang artinya “didepan”ini berarti
bahwa ibu adalah manusia yang berada di garis depan dalam semua keadaan.
Seorang ibu akan lebih dahulu merasakan sakit ketika mengandung dan melahirkan.
Dia pula yang lebih dahulu cemas ketika
sang anak dalam marabahaya. Pendeknya sang ibu akan bersedia mengorbankan apa saja demi
kepentingan anaknya.
Karena
besarnya jasa ibu, Islam meletakkan wanita pada tempat yang mulia. Rosululloh
s.a.w bersabda “berlaku lemah lembutlah
terhadap meraka(wanita)”
Dalam
hadits yang lain Rosululloh s.a.w
bersabda :
“tidak
memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia .dan tidak merendahkan wanita
kecuali laki-laki yang hina”.
(by.Ita K)
Label:
PW SII
14.54
Bukti Cinta
Written By Syarikat Islam Indonesia (SMD) on Kamis, 24 Januari 2013 | 14.54
Sungguh…!
Keberadaan cinta dalam kehidupan dunia teramat menarik dan unik. Hingga semua
makhluk berusaha untuk menggapainya. Itu semua terjadi karena mereka telah
merasakan kalau cinta dapat memberikan ketentraman, damai, sejuk dan kehangatan
serta membikin hidup lebih hidup. Bahkan mereka rela untuk mempertaruhkan
eksistensi keberlangsungan hidup demi hidup untuk mendapatkan cinta.
Terbukti,
ketika cinta bersemi di puncak-puncak pegunungan dua kutub yang bersalju,
merekapun mendaki untuk menggapainya, tak peduli sekalipun pusaran badai
samudra mereka siap berlayar dan menyelami sekalipun hempasan gelombang
beresiko meluluhlantahkan.
Cinta ditebar pada setiap sesuatu
yang dicintai untuk kepentingan sang pecinta, sebagai bagian baginya baik sesuatu itu benar atau
salah. Yang dengan cintanya ia jadikan sesuatu itu bahagia atau menderita. Maha
suci Allah yang telah membagi-bagi hati antara yang mencintai Allah, mencintai
berhala, salib, Negara, api, saudara, wanita, anak, harta, iman, bahasa maupun
al-Qur’an, Maha adil Allah yang telah melebihkan orang-orang yang
mencintai-Nya, mencintai kitab dan Rasul-Nya daripada seluruh pecinta.
Islam
memandang cinta sebagai bagian yang lazim dari bentuk ubudiyah pengabdian
kepada Allah, maka Allah telah menabur dan menyemikan cinta dan untuk cintalah
maka langit serta bumi diciptakan.
Atas dasar cintalah semua makhluk
diberi fitrahnya masing-masing. Sehingga planetpun beredar pada garis edarnya,
air mengalir dengan penuh kesegaran, api mampu memberikan kehangatan. Anginpun
bertiup, membelai dengan kesejukan.
Karena
kedududkan cinta yang agung Allah SWT mewasiatkan agar cinta senantiasa dijaga
kesucian dan kemurniaanya, juga agar disematkan mahkota ketaatan, ketundukan,
keikhlasan kepada-Nya di atas cinta. Maka bercintalah di istana ridha-Nya.
Bukankah Allah berfiman :
“ Katakanlah jika kamu benar-benar mencintai
Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihani dan mengampuni dosa-dosamu.”
Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.”
( QS. Ali-Imran : 31
)
Katakan Cinta dan Buktikan…….!
(by. Ita Kartika)
13.28
By : Ita Kartika
MAKE UP MUS LIMAH
Written By Syarikat Islam Indonesia (SMD) on Senin, 21 Januari 2013 | 13.28
Agar ukhti tampail lebih cantik
dan menarik lakukanlah resep berikut mi.
- Jadikanlah Ghodhdhul Bashor (menundukkan pandangan) sebagai hiasan kedua mata ukhti niscaya mata ukhti akan semakin bening dan jernih.
- Oleskan lipstik kejujuran pada bibir ukhti niscaya bibirmu semakin manis.
- Gunakanlah pemerah pipi ukhti dengan kosmetik yang terbuat dan rasa malu yang dijual di salon iman.
- Pakailah sabun istighfar untuk menghilangkan semua dosa dan kesalahan yang ukhti lakukan.
- Rawatlah mahkota rambut ukhti dengan jilbab Islami yang berkhasiat menghilangkan ketombe pandangan laki-laki asing yang membahayakan.
- Pakailah giwang kesopanan pada kedua belah telinga ukhti.
- Hiasilah kedua tangan ukhti dengan gelang tawadhu dan jan-jan ukhti dengan cincin ukhuwah.
- Sebaik-baik kalung yang harus ukhti pakai adalah kalung kesucian.
Label:
PW SII
22.59
Sehingga dalam konteks ini, baik
dan buruknya kondisi suatu Negara ditentukan oleh generasi bagaimana yang
dihasilkan. Bila wanita dinegara itu baik maka generasi yang dihasilkan itupu
akan baik dan otomatis keadaan Negara itupun akan menjadi baik. Sebaliknya bila
wanita dinegara itu buruk/jahat maka generasi yang dihasilkannya pun
akan buruk maka otomatis keadaan Negara itupun menjadi buruk. Jadi baik
buruknya suatu generasi tergantung kepada wanitanya. Inilah hakikat “cermin”
yang dimaksud.
Wanita “Sebuah Fenomena”
Written By Syarikat Islam Indonesia (SMD) on Minggu, 20 Januari 2013 | 22.59
Wanita adalah cermin, bahwa
wanita adalah cermin suatu keadaan (generasi). Disebut cermin karena sifatya
mampu merefleksikan kepribadian, mampu memberikan gambaran suatu
keadaan/kondisi. Sifat ini dijelaskan dalam sabda Nabi sebegai berikut :
“Wanita itu adalah tiang Negara,
bila baik wanitanya maka baiklah Negara dan bila buruk wanitanya maka buruk
pula Negara”.
Sehingga dalam konteks ini, baik
dan buruknya kondisi suatu Negara ditentukan oleh generasi bagaimana yang
dihasilkan. Bila wanita dinegara itu baik maka generasi yang dihasilkan itupu
akan baik dan otomatis keadaan Negara itupun akan menjadi baik. Sebaliknya bila
wanita dinegara itu buruk/jahat maka generasi yang dihasilkannya pun
akan buruk maka otomatis keadaan Negara itupun menjadi buruk. Jadi baik
buruknya suatu generasi tergantung kepada wanitanya. Inilah hakikat “cermin”
yang dimaksud.
Wahai Ukhti…!!! Dengan limpahan
sepenuh Mahabbah dan rasa ukhuwah. Jadikanlah diri engkau wanita yang Sholihah,
wanita yang memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap generasi
setelahmu, jadilah engkau wanita yang
Mujahidah, pejuang Agama Alloh. Amiiiin…!!!
@Ita Kartika
Label:
PW SII
Home

.jpg)